aku atau dia mungkin juga kamu dan siapa???

Duduk termenung, kemudian berjalan dengan gontai menyusuri parit yang berair jernih, oh… bukan bukan air itu, tapii… sang waktu yang bermandikan peluh sang penguasa siang yang kejam, lamunan dan khayalan yang ter himpit dalam benak seakan tak mau pergi dari lubuk dada yang membahana, kesendirian dan kediinginan menyelubungi seluruh badan, ohhh inikah kehidupan…?


Tanyaku pada sang daun kering didekatku, tak mau dan tak ingin memang bukanlah hal yang jauh berbeda namun bentangan benteng keraguan selalu menyelimuti sang hati yang kering karena kesedihan yang tak terlalu dalam, Teman, teman disampingnya merasa ada hal yang tidak biasa, tiap berjalan memandangi langit dan rembulan selalu bersama tak ada penguat tali bagi mereka, hanya berjalan dan berjalan, sampai kapan…??? Sampai kapan semua kejenuhan dan kehampaan ada untuk mereka, mungkin… saat sehelai lembayung senja menyeruak meniti ke dalam urat saraf sang imam, waktunya waktu memberi jawaban, jawaban yang menjadikan sumber keterpurukkan dan keluarnya sumber air di mata nan sayu dan lembut tersebut, sebuah sumber dari sebuah anak manusia sang hawa yang lembut gemulai memandangi dunia dengan kepolosannya yang tercipta, Gemblengan demi gemblengan yang didapat dalam hari yang lama menumbuhkan suatu akibat yang bergelombang dalam hidupku, puji syukur yang melantun dalam diriku menguatkan nyali dan menempa segala pengalaman dan keadan yang ada, perjalanan yang terus berlangsung……………………………TO BE CONTINOUS